My Ads

Teks.....

Minggu, 09 November 2008

Motivasi Tambahan

Jangan menyerah.
Berjuanglah demi masa depan Anda.
Kemerdekaan adalah solusi terbaik.
Wanita sama baiknya dengan pria.
Maju terus!
Anda mungkin tidak punya banyak uang, akan tetapi Anda pasti memiliki jiwa yang merdeka dan mandiri.
Pengetahuan!
Pendidikan!
Jangan menyerah!Buatlah jalan hidup Anda sendiri.
Jangan mengaduh!
Jangan mengeluh!
Berpikirlah positif.
#Katharine Hepburn, Bintang Film#

Jarang ada orang yang sukses, kecuali jika mereka menyukai apa yang mereka lakukan.
#Andrew Carnegie, Pengusaha dan Filantropis#

Saya tidak terlalu peduli tentang "Bagaiman saya bisa menjadi seperti X, tetapi saya lebih peduli tentang bagaiman melakukan apa yang saya pikir menyenangkan, menarik, dan benar. Moto hidup saya, Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan oleh mereka, dan lakukanlah dengan senang hati."
#Linus Torvalds, Pendiri Linux#

Uang bukan sesuatu yang mengendalikan saya. Ketika melihat suatu proyek, saya tidak memikirkan bayaran uangnya. Saya hanya melihat karakter apa yang akan saya mainkan, naskahnya, dan apakah film itu akan menjadi film yang bagus.
#Keanu Reeves, Aktor#

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Mickey Mouse "keluar" dari pikiran saya, kemudian "masuk" ke dalam gambar. Ketika itu, saya sedang dalam perjalanan kereta dari Manhattan ke Hollywood, ketika kondisi bisnis saudara saya Roy dan bisnis saya sendiri berada pada posisi paling rendah dan bencana kelihatannya "tepat berada di sekeliling" kami.
#Walt Disney, Pendiri Walt Disney, Inc#

Tujuan dapat menyediakan sumber energi yang memperkuat kehidupan kita. Salah satu cara terbaik untuk memperoleh sebanyak mungkin energi yang kita miliki adalah dengan fokus terhadap sumber energi itu sendiri. Yaitu, apa yang bisa dilakukan tujuan tersebut untuk kita, dan berkonsentrasilah terhadap energi kita.
#Denis Waitley, Motivator#
Selengkapnya...

Jumat, 07 November 2008

Motivasi dari Para Pengusaha

Tujuan adalah alat untuk mencapai sebuah hasil, bukan merupakan tujuan akhir hidup kita. Ia hanya sebuah alat untuk mengkonsentrasikan fokus dan menggerakkan kita pada suatu arah. Satu-satunya alasan mengapa kita sangat mengejar tujuan adalah untuk bisa membuat diri kita tumbuh dan berkembang. Pencapaian tujuan tidak akan pernah membuat kita bahagia untuk jangka waktu yang panjang. Hal itu lebih menjawab tentang akan menjadi apa diri anda, karena Anda berjuang mengatasi hambatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, sehingga dapat memberikan Anda perasaan paling mendalam dan paling membekas akan sebuah keberhasilan.
#Anthony Robbins, Motivator dan Konsultan#

Ada satu hal yang saya ketahui tentang orang-orang romantis. Mereka mencoba untuk menciptakan dunia baru yang lebih baik, dari kehidupan sehari-hari yang penuh kesuraman. Itu pula tujuan Starbucks. Kami mencoba menciptakan oasis di toko-toko kami, yaitu sebuah pojok lingkungan kecil dimana Anda bisa beristirahat, mendengarkan musik, atau memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, umum, atau bahkan aneh sambil menikmati secangkir kopi.
Siapa yang memimpikan tempat seperti itu?
Dari pengalaman pribadi, saya bisa katakan bahwa semakin tidak ada inspirasi di daerah asal Anda, maka Anda akan semakin mampu menggunakan imajinasi dan menemukan dunia-dunia di mana segalanya kelihatan mungkin.
Itu sudah pasti benar bagi saya.
#Howard Schultz, Pendiri Starbucks, Inc#
Selengkapnya...

Kamis, 06 November 2008

Motivasi oleh John Maxwell

Setiap orang yang telah berhasil sesungguhnya adalah seseorang yang telah membentuk kebiasaan untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai atau tidak akan dilakukan oleh kegagalan.
#John Maxwell#

Latihan tidak membuat sempurna, latihan membuat sesuatu hal menjadi permanen.
#John Maxwell#

Sikap anda merupakan sahabat terbaik atau musuh terbesar Anda, modal terbesar atau kelemahan terburuk Anda.
#John Maxwell#

Kepemimpinan menentukan arah perusahaan.
Organisasi menentukan potensi perusahaan.
Karyawan menentukan keberhasilan perusahaan.
#John Maxwell#

Memimpin orang lain untuk berlaku benar itu sangat bagus. Melakukan hal yag benar dan kemudian memimpin orang lain adalah lebih bagus...dan lebih sulit.
#John Maxwell#

Keadaan-keadaan tidak membuat Anda menjadi sebagaimana Anda adanya...keadaan-keadaan mengungkapkan siapa Anda yang sesungguhnya!
#John Maxwell#

Kehormatan itu sanagt penting bagi seorang pemimpin. Tanpa itu, tidak ada seorangpun yang sudi mengikutinya. Gelar atau kedudukan tidak akan membantu. Dengan kehormatan, setiap orang akan mengikuti, dan gelar serta kedudukan tidak diperlukan lagi.
#John Maxwell#

Mereka yang dekat dengan seorang pemimpin menetukan tingkat kesuksesan atau kegagalan pemimpin tersebut.
Memberikan nasehat kepada pemimpin-pemimpin yang berpotensi memastikan pemimpin tersebut dan organisasinya untuk memaksimalkan potensi mereka.
#John Maxwell#

Orang-orang menerima seorang pemimpin sebelum mereka menerima visi pemimpin tersebut. Jika Anda ingin memimpin, Anda harus memberikan kesan yang baik tentang diri Anda.
#John Maxwell#

Orang yang ahli dalam membuat-buat alasan jarang sekali ahli dalam hal apapun lainnya.
#Benjamin Franklin#

Anda bisa saja membuat orang kagum kepada Anda dari kejauhan, namun Anda hanya dapat mempengaruhi mereka dari jarak dekat.
#Howaard Hendricks#
Selengkapnya...

Rabu, 15 Oktober 2008

Motivasi Diri

KapanLagi.com - Seringkali rutinitas, dan berbagai masalah yang datang silih berganti setiap hari membuat kita kehilangan motivasi untuk mendapatkan yang lebih baik dalam kehidupan. Hingga semua tujuan kita mengabur dan lama-lama menghilang. Berikut kami sampaikan tujuh cara untuk mendapatkan motivasi setiap hari:

1. Ciptakan Hasrat - Lihat imbalan dari usaha Anda secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana Anda cepat terwujud. Bayangkan rumah impian Anda setiap hari, dan ini akan memberikan Anda dorongan untuk menjadikannya nyata.

2. Ciptakan Rasa Sakit - Dalam program Neuro-Linguistic mereka mengajarkan pada Anda untuk menghubungkan rasa sakit dengan tidak melakukan tindakan. Gambaran kekasih Anda keluar dengan orang lain, saat Anda menyaksikan itu dengan diam-diam, hal itu mungkin membuat Anda termotivasi membicarakan hal-hal yang Anda hindari dengan pasangan Anda.

3. Bicarakan Rencana Anda - Bicaralah pada pasangan Anda tentang rencana Anda, atau tuliskan dalam selembar kertas apa yang akan Anda lakukan lalu tempelkan di kulkas.

4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata - Jika tak ada ketertarikan sama sekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu, untuk itu buat sebuah tujuan besar dalam pikiran Anda.

5. Miliki Energi - Kafein akan memberikan rasa sehat untuk sesaat, tapi dalam satu atau lain cara, Anda membutuhkan energi lebih sebagai motivasi untuk setiap hari, misalnya dengan olah raga atau tidur cukup.

6. Ciptakan Keseimbangan Mental - Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika Anda dalam keadaan tertekan. Hilangkan beberapa perasaan negatif Anda, atau pada akhirnya pilih kerjakan pekerjaan penting saat Anda dalam mood yang bagus.

7. Ambil Sebuah Langkah Kecil - Lakukan pengumpulan untuk satu tas besar daun-daun di halaman. Dan denagn segera Anda akan membersihkan halaman. Setiap sebuah langkah kecil yang Anda ambil untuk mencapi tujuan akan memberikan motivasi pada Anda setiap hari.
Selengkapnya...

Minggu, 12 Oktober 2008

To Respect Child Rights

Menarik untuk dibaca dan diambil hikmahnya, terutama utk orang tua yg selalu merasa dirinya

BENAR ...

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD ** Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapakali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala Sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ.

Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut.. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian.
Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu

luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatanDika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun

pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak .."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai fotocopy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orangtua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidaktahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang.....",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar, tetapi sebagai manusia orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum".

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku ..."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik

Ini juga dapat merupakan suatu inspirasi dan motivasi untuk menjadi orang tua yang lebih baik, dengan belajar dari pengalaman orang lain
Selengkapnya...